"Temperatur rata-rata permukaan naik 9,3 derajat fahrenheit (5,2 derajat celsius) sampai 2100," kata beberapa ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dibandingkan dengan studi pada 2003 yang memproyeksikan temperatur rata-rata naik 4,3 derajat F (2,4 derajat C).
Studi baru yang disiarkan di Journal of Climate American Meteorogical Society’s menyatakan, perbedaan dalam proyeksi itu ditimbulkan contoh ekonomi yang meningkat dan data ekonomi yang lebih baru dibandingkan dengan skenario sebelumnya.
"Peringatan sebelumnya mengenai perubahan iklim juga mungkin telah diselimuti dampak pendinginan global berbagai gunung berapi abad XX dan oleh buangan jelaga, yang dapat menambah pemanasan," kata para ilmuwan tersebut dalam satu pernyataan.
Agar mencapai keputusan, tim MIT menggunakan simulasi komputer yang memperhitungkan kegiatan ekonomi dunia serta proses iklim.
"Semua proyek tersebut menunjukkan bahwa tanpa tindakan cepat dan besar-besaran, peringatan dramatis itu akan terjadi pada abad ini," kata pernyataan tersebut.
Hasil itu akan terlihat jauh lebih parah apabila tidak ada tindakan nyata, yang dilakukan guna memerangi perubahan iklim, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya. Namun, akan terjadi sedikit perubahan apabila kebijakan ketat diberlakukan saat ini juga untuk mengurangi buangan gas rumah kaca.
"Ada risiko yang lebih besar dibandingkan dengan yang kami perkiraan sebelumnya. Dan hal ini menunjukkan bahwa kita harus segera melakukan tindakan darurat secepatnya," ujar Ronald Prinn, salah satu penulis bersama tersebut.
Studi ini disiarkan saat Presiden AS Barack Obama mengumumkan rencana menetapkan standar buangan nasional bagi mobil dan truk, guna mengurangi polusi pemanasan global. Serta pembuatan rancangan yang menetapkan sistem perdagangan gas untuk memangkas gas rumah kaca, yang dibahas di Komite Perdagangan dan Energi.
Sejumlah ahli lingkungan hidup AS menyatakan kerusakan ekosistem bumi oleh tangan manusia meningkat dalam 50 tahun terakhir. Kerusakan ini akan mengakibatkan menurunnya persediaan makanan, air, dan energi yang penting bagi kehidupan manusia.
Berdasarkan laporan ahli lingkungan, tercatat seperempat jumlah ikan di lautan habis. Sementara seperempat luas tanah di bumi telah diolah. Penggunaan air dari sungai dan danau berlipat ganda dalam 40 tahun terakhir. Hal itu muncul akibat bertambahnya populasi manusia dan diperparah budaya konsumerisme.
Jika kondisi ini terus berlanjut, manusia akan menghadapi berbagai masalah. Di antaranya penyakit malaria dan kolera akan meningkat. Eksploitasi alam berlebihan ini dipastikan membuat cadangan air bersih menipis. Sebanyak 25% mamalia yang hidup di hutan juga terancam punah.
Saat ini, negara-negara besar dengan jumlah penduduk tinggi mulai merasakan dampaknya. Di AS, misalnya. Dalam beberapa kali dalam setahun Sungai Colorado mengering sebelum airnya dapat mencapai laut. Sedangkan di Sungai Missisipi, terdapat satu zona yang tidak memungkinkan ikan untuk hidup.
Di Indonesia sendiri telah terjadi penjarahan hutan. Penjararahan itu ternyata memiliki dampak positif yaitu keuntungan finansial yang besar. Namun ada pula dampak negatifnya yaitu kerusakan ekosistem. Jadi, ekosistem tetap dirugikan, bahkan justru kerusakan ekosistem ini jika dinilai rupiah tidak ternilai.
Dari pengamatan, dampak negatif penjarahan memang cukup besar. Contoh konkret, beberapa desa yang selama ini tidak pernah banjir, begitu kondisi hutan gundul seperti saat ini, hujan sebentar saja sudah banjir. Contoh lainnya PDAM saatini dipusingkan dengan tinggingya pelumpuran air baku. Kondisi ini terjadi karena hutan di sekitar air baku sudah gundul, sehingga jika terjadi hujan sedikit saja tanah-tanah akan terbawa air dan masuk sungai.
Selain Faktor dari manusia, faktor alam juga memungkinkan terjadinya kerusakan ekosistem. Seperti bencana alam gempa bumi dan gunung meletus. Bencana-bencana tersebut mengakibatkan kerusakan ekosistem yang kemudian berdampak kekeringan pada tanah persawahan maupun hutan.
Dengan demikian dapat disimpulkan ekosistem bumi semakin rusak selain akibat faktor alam, tetapi juga akibat perbuatan atau kegiatan manusia yang berakinat buruk pada ekosistem tanah, air maupun pada manusia sendiri. Seperti timbulnya banjir, menurunnya populasi ikan, serta meningkatnya penyakit yang berdampak khusus pada manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar